Rabu, 08 Juni 2011

Fungsi Akal dan Budi bagi Manusia


Fungsi Akal Yg Menjadikan Derajat Manusia Seperti Malaikat, Seperti Iblis 
Ataukah Seperti Binatang.
   
   
  Dengan akal manusia bisa menjadi baik, benar dan cerdas bila potensi akal 
disandarkan or ditundukkan kepada hukum Allah dan sunnah Rasul. tapi..dengan 
akal manusiapun bisa menjadi, jahat, salah, sombong, bodoh dan dungu, bila akal 
dijadikan sandaran penuh akan semua masalah dalam hidupnya.
   
  "Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)" (TQS. 
Al-Balad [90]:10)
   
  fungsi akal hanya digunakan untuk menimbang perbuatan baik dan buruk menurut 
ukuran akal yg menggunakannya, jika perbuatan baik dan buruk disandarkan 
menurut ukuran akalnya, jelas semua bersifat relatif dan tidak mutlak. maka 
disinilah terjadi pertentangan antara akal manusia yg satu dengan manusia yg 
lain.
   
  hmm..harusnya akal digunakan untuk mencari kebenaran yg sudah diberitakan 
dalam Firman Allah dan RasulNya dan bukan mencari pertentangan atas semua 
berita yg sudah di firmankanNya. andai seseorang belum menemukan makna berita 
yg dituliskan dalam Al-qur'an, layaknya seorang hamba yg belum menemukan, 
seharusnya diam yaitu kami dengar dan kami taat. 
   
  hmm..aku teringat kata2 seorang "cendikiawan muslim" yg mengatakan :
   
  "Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia 
tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni." 
   
  hmm..dia mengclaim iblis akan masuk surga berdasarkan akalnya, padahal
   
  "Kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu kepada adam, maka 
sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia teramsuk 
golongan orang2 yg kafir" (Al-Baqarah : 34)
   
  hmm..Allah telah mengclaim iblis termasuk orang2 yg kafir.dan orang kafir 
tempatnya adalah neraka yg menyala2.
   
  "sesungguhnya orang2 yg kafir dan mati sedang mereka tetap dalam 
kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas 
sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas yg sebanyak itu. bagi 
mereka itulah siksa yg pedih dan sekali-kali tidak memperoleh penolong" 
(Ali-Imran : 91)
   
  hmm..akal cendekiawan yg mengatakan iblis menempati syurga tertinggi karena 
ketauhidan murninya sungguh bertentangan dengan firman Allah. karena Tauhid 
bukan sekedar bentuk penyembahan, tapi dibarengi dengan bentuk ketaatan, 
sedangkan iblis tidak taat pada Allah.
   
  hmm..aku sering berfikir kenapa Allah or Rasul berkata "derajat manusia yg 
bertaqwa akan melebihi derajat seorang malaikat, tapi..derajat manusia yg 
menuruti hawa nafsunya, dia akan lebih hina dari binatang melata" 
   
  bagiku perkataan Allah or Rasul tidak akan pernah salah, dan aku selalu 
menggunakan akalku untuk membenarkan perkataan Allah dan mencari jawabannya, 
kenapa Allah bisa berkata spt itu?? dan perkataan itu pasti benar.
   
  yup!!perkataan itu benar. Iblis hanya mau menyembah kepada Allah, tapi Iblis 
tidak taat kepada Allah (karena menolak perintah Allah untuk menyembah adam) 
sedangkan Malaikat hanya mau menyembah kepada Allah dan Malaikatpun hanya taat 
kepada Allah. jadi yg murni bentuk ketauhidannya adalah Malaikat dan bukan 
Iblis.
   
  hmm..aku mikir lagi, jelas aja malaikat bisa memurnikan ketauhidannya, karena 
Malaikat tidak dilengkapi Hawa nafsu oleh Allah....tapi manusia?? dilengkapi 
oleh hawa nafsu dan akal yg tidak dimiliki oleh Malaikat. 
   
  hmm..disinilah perbedaan itu. karena hawa nafsu sifatnya selalu mengajak 
kepada keinginan diri untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan akal diberikan 
Allah adalah sebagai pelengkap untuk menimbang2 apakah keinginannya itu perlu 
dituruti or tidak dituruti (menimbang baik dan buruk yg bersifat relatif )
   
  Yup!! pada saat manusia menuruti hawa nafsunya dan menyandarkan kepada 
akalnya yg bersifat relatif, maka disinilah manusia sering jatuh pada 
kesalahan. dan andai manusia sudah hilang akalnya dan hanya tersisa hawa 
nafsunya, disinilah hinanya manusia melebihi binatang melata. 

Dan apabila manusia mempunyai kekuatan akal tanpa dilandasi dengan keimanan, 
disinilah sifat manusia yg spt iblis (sombong). tapi..andai manusia menahan 
hawa nafsunya dan menundukkan akalnya pada semua firman Allah dan RasulNya, 
maka disinilah ketinggian derajat manusia melebihi malaikat. karena mampu 
menahan hawa nafsu (yg tidak dimiliki oleh malaikat) dan menundukkan akalnya 
akan semua firman Allah dan RasulNya. dan kuncinya adalah ilmu yg benar dan 
didasari oleh kejujuran, keikhlasan dan kepasrahan dengan penuh ketundukkan 
(kami dengar dan kami taat)
   
  Hmm..aku juga sering berpikir, kenapa guruku selalu bilang padaku untuk 
memilih bahan bacaan dan memilih semua yg ingin aku pikirkan (tidak semua harus 
dibaca dan tidak semua harus dipikirkan)kata beliau, "bisa pecah lama2 itu 
kepala kamu.." aku suka mikir..kenapa beliau berkata spt itu?? Ternyata 
terbukti lagi ditempat kami bekerja seorang peneliti yg menurutku sudah 
maksimal kemampuan otaknya untuk menampung semua, ya..akhirnya hilang semua 
ingatan yg ada dikepalanya, hingga saat inipun..jangankan untuk memikirkan 
penelitiannya?? Mengingat abjad dan huruf aja dia sudah tidak mampu. Dan aku 
juga suka memperhatikan orang2 atheis yg tidak percaya akan Tuhan, dalam 
hidupnya tidak pernah ada ketenangan dan selalu aja sikap frustasi dan 
menyalahkan kepada orang2 yg mengakui akan Tuhan. Dan sifat penghambaannya 
kepada sesuatu selain Tuhan (orang, harta, dlsbnya) itu lebih condong sekali 
dan terlihat jelas sekali, kalau dia bukan orang yg bahagia.
   
  Yaa..ini hanya hasil pengamatan dan renungkanku aja selama ini, ternyata 
banyak sekali hikmah dan pelajaran yg bisa kita ambil andai manusia mau 
menundukan akalnya kepada semua yg telah ditentukan oleh Allah.
dan ternyata akal "cendekiawan muslim" tidak mampu membedakan mana tauhid 
murni dan setengahnya aja :) dan sialnya lagi, orang jelas salah, masih saja 
ada yg senang mengikuti kesalahannya. Hehehe kebiasaan jelek orang disini 
adalah, senang mengikuti yg salah (ikutan ngetop walau salah), iri dengan orang 
yg berbuat salah (karena patokannya adalah dengan pembuat salah yg lebih besar) 
dan bangga dengan kesalahannya, (karena merasa sudah mampu mempengaruhi orang 
dan menjadi pengikut kesalahannya dan akhirnya seolah2 menjadi benar, karena 
pengikutnya yg banyak
 
AKAL DAN BUDI
Akal adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat
alami yang dimiliki manusia. Berpikir adalah perbuatan operasional yang
mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup
manusia.
Fungsi akal adalah untuk berfikir, kemampuan berfikir
manusia mempunyai fungsi mengingat kembali apa yang telah diketahui
sebagai tugas dasarnya untuk memecahkan masalah dan akhirnya membentuk
tingkah laku
.
Budi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam
kebudayaan. Budi diartikan sebagai batin manusia, panduan akal dan
perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu
Manusia sebagai animal simbolicum

Simbol : segala sesuatu (benda, peritiwa, kelakuan, tindakan manusia,
ucapan) yang telah ditempati suatu arti tertentu menurut kebudayaannya
  Adalah komponen utama perwujudan kebudayaan karena setiap hal yang dilihat dan dialami, diolah menjadi simbol
  Kebudayaan : pengetahuan yang mengorganisasi simbol-simbol
  Fungsi simbol : 
  Faktor pengembangan kebudayaan
  Terbatas pada gugus masyarakat etrtentu
 

5 komentar:

Full House Entertainment mengatakan...

ADITYA KORNIAWAN


L200102004

AKAL untuk menimbang langkah yang akan kita lakukan

kids mengatakan...

Dengan akal manusia menciptakan sesuatu.

Agus Riyanto
L200102013

Mega Aslam Web Log's. mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Mega Aslam Web Log's. mengatakan...

A

Dhao Woods mengatakan...

kita menggunakan akal untuk menghasilkan budaya, namun harus tetap berbudi dalam menggunakannya.

MUHAMMAD DAWUD
L200102009

Poskan Komentar

image

Lorem ipsum dolor sit

Aliquam sit amet urna quis quam ornare pretium. Cras pellentesque interdum nibh non tristique. Pellentesque et velit non urna auctor porttitor.

image

Nunc dignissim accumsan

Vestibulum pretium convallis diam sit amet vestibulum. Etiam non est eget leo luctus bibendum. Integer pretium, odio at scelerisque congue.